Halaman Blog

Rabu, 04 Februari 2026

cerita rakyat timun mas




Timun Mas

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda tua di sebuah desa bernama Mbok Rondo. Ia hidup sebatang kara dan sangat merindukan seorang anak untuk menemani hari-harinya. Setiap malam ia berdoa agar diberi keturunan.

Suatu hari, datanglah raksasa besar ke rumah Mbok Rondo. Raksasa itu menawarkan bantuan:
ia akan memberinya seorang anak, asal anak itu diserahkan kembali saat berusia dewasa.
Karena sangat ingin punya anak, Mbok Rondo akhirnya menyetujui perjanjian itu.

Raksasa memberi Mbok Rondo biji mentimun emas dan menyuruhnya menanam di ladang. Tak lama kemudian, tumbuhlah sebuah mentimun besar berwarna keemasan. Ketika dibelah, di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan yang cantik. Bayi itu diberi nama Timun Mas.

Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang baik hati dan rajin. Namun Mbok Rondo selalu gelisah, karena ia ingat janji kepada raksasa. Ketika Timun Mas berusia remaja, raksasa itu datang untuk menagih janjinya.

Ketakutan, Mbok Rondo meminta bantuan seorang pertapa. Sang pertapa memberi empat benda pusaka: biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. Ia berpesan agar benda-benda itu digunakan jika Timun Mas dalam bahaya.

Keesokan harinya, raksasa kembali. Mbok Rondo menyuruh Timun Mas melarikan diri ke hutan. Raksasa mengejar dengan marah.

Saat raksasa hampir menangkapnya, Timun Mas melempar biji mentimun. Seketika tumbuhlah ladang mentimun yang luas. Raksasa memakannya, tetapi kemudian kembali mengejar.

Timun Mas lalu melempar jarum. Jarum itu berubah menjadi hutan bambu runcing yang melukai kaki raksasa. Namun raksasa tetap mengejar.

Kemudian Timun Mas melempar garam, yang berubah menjadi lautan luas. Raksasa hampir tenggelam, tetapi masih berhasil lolos.

Akhirnya, Timun Mas melempar terasi. Terasi itu berubah menjadi lumpur mendidih. Raksasa terperosok ke dalamnya dan tidak pernah muncul kembali.

Timun Mas pun selamat. Ia kembali ke rumah dan hidup bahagia bersama Mbok Rondo. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup dengan damai dan penuh rasa syukur.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar